Mempertahankan Keeksistensian Dalam Mencetak Para Santri Dan Santriwati
Yang Memilki IPTEK Dan IMTAQ
Sebagai seorang Muslim Indonesia, tentunya kita tidak asing lagi dengan pondok pesantren, sebuah tempat pendidikan yang mencetak para santri dan santriwati, dan yang jelasnya, di tempat tersebut diajarkan nilai-nilai keislaman. Iulah gambaran secara umum mengenai Pondok pesantren.
Pondok Pesantren paling banyak sekali di berbagai wilayah Indonesia, baik yang sistem pendidikannya yang masih tradisional, atau lebih dikenal dengan Pondok pesantren salafi atau klasik. Metode pengajaran klasikmenitikberatkan kepada pemahaman nakah kitab klasik, baik secara gramatika maupun isi. Sedangkan dalam pesantren modern yang memadukan antara ilmu pengetahuan Umum dengan ilmu pengetahuan kegamaan yang bernafaskan Islam, menekankan pada pemahaman dan kemampuan berbahaa secara lisan. Namun, megenai pemahaman pad kitab klasik kurang begitu dipehatikan. Begitulah kira-kira sedikit mengenai bentuk pesantren yang ada di Indonesia.
Pada kesempatan kali ini, kami dari Mahasiswa Kerinci IAIN Imam Bonjol Padang mengunjungi sebuah pesantren yang cukup ternama di Kab. Kerinci, yaitu Pesantren Nurul Haq. Pesantren ini tepatnya berlokasi di daerah Pasar Semurup, Kec. Air Hangat, Kab. Kerinci, Prop. Jambi.
Ketika kami sampai di Pondok pesantren tersebut, kami disambut dengan penuh penghargaan dari pihak sekolah tersebut, baik itu dari pimpinan pesantren, guru, maupun dari siswa-siswi di sana. Sehingga kami benar-benar merasakan nuansa kegamaan yang cukup kuat di sana ketika melihat suasana yang penuh dengan keramah-tamahan. Kamipun menjadi teringat akan nuansa ketika masih bersekolah dalam dunia pesantren. Kecuali saya (penulis) yang tidak merasa hal tersebut, karena tidak pernah menimba ilmu di pesantren.
Pesantren Nurul Haq merupakan salah satu pesantren yang cukup tua di Kab. Kerinci. Usia pesantren ini kira-kira sudah mencapai umur 50-an, sebuah umur yang cukup tua bila dikategorikan ke dalam benda-benda sejarah. Siswa-siswi dari Pesantren ini berasal dari berbagai desa dalam wilayah Kabupaten Kerinci, baik mereka yang berasal dari wilayah Kerinci Hilir, tengah, maupun hulu. Bahkan ada dari siswa kabupaten lain yang sekolah di sana, seperti siswa dari Pariaman.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, siswa-siswi dari berbagai daerah dalam kabupaten kerinci banyak menimba ilmu di sana. Tapi yang menjadi sebuah permasalahan adalah minimnya siswa yang berasal dari Semurup, daerah tempat pesantren tersebut terletak. Padahal kalau kita analisis, sudah seharusnya banyak siswa yang berasal dari Semurup dibandingkan daerah-daerah lain. Siswa yang paling banyak berasal dari wilayah Kerinci hulu, seperti daerah Siulak dan Kayu Aro.
Berdasarkan pengamatan dan data yang kami peroleh, dahulu pada era 80-an banyak siswa dari Semurup yang menimba ilmu di sana, tetapi pada era 2000-an jumlah siswa sudah mulai menurun hingga sekarang, khususnya yang berasal dari Semurup.
Menurut pimpinan Pesantren, Buya Darul Ulum menyatakan bahwa pada saat sekarang ini masyarakat lebih cenderung untuk menuntut ilmu pengetahuan umum ketimbang ilmu agama, hal ini berdasarkan persepsi dari masyarakat sendiri yang beranggapan bahwa sekolah agama hanya diajarkan ilmu agama saja dan tidak diajarkan ilmu pengetahuan umum. Serta ada anggapan dari masyarakat yang menyatakan bahwa sekolah agama hanya mencetak para ustadz dan ustadzah saja, tidak mencetak ilmuwan yang modern. Tetapi, pada kenyataannya menurut pimpinan pesantren tersebut menyatakan bahwa sistem pembelajaran di pesantren ini sudah modern, artinya sudah diajarkan ilmu pengetahuan umum dan teknologi selain ilmu-ilmu agama yang menjadi prioritas sebuah pesantren.
Menurut kepala TU pesantren ini, Suharto S.Ag.,S.Pd. menyatakan bahwa dahulu pesantren ini pernah berjaya semasa beliau menimba ilmu di sana. Banyak dari para lumni yang telah menjadi sukses, seperti menjadi dokter, dosen, guru, politisi dan sebagainya. Kejayaan pesantren ini kira-kira pda era 80-an hingga tahun 1996.
Kejayaan Pesantren Nurul Haq didorong oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Dukungan dari orang tua.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa peranan orang tua sangat menonjol sekali dalam menentukan jalan hidup sang anak. Arahan dari orang tua biasanya akan menentukan bagaimana pilihan sang anak. Apalagi ketika sang anak diarahkan untuk menimba ilmu agama, orang tua akan mendukung sepenuhnya bila sang anak mau mengikuti mereka.
2. Sekolah Masih Sedikit
Minimnya sekolah yang berbasis agama sangat mempengaruhi kejayaan bagi Ponpes Nurul haq. Dahulu, kebanyakan siswa berasal dari daerah yang minim sekolah agama. Jadi, mereka berinisiatif untuk mencari sekolah yang mempunyai nuansa islami. Sehingga, banyaklah siswa-siswi Ponpes Nurul Haq pada era 80—an hingga 90-an.
3. Letak Geografis
Letak suatu sekolah sangat mempengaruhi akan kemajuan sekolah itu sendiri. Ponpes Nurul Haq yang terletak di desa Semurup, Kec. Air Hangat, cukup dekat dengan Ibu Kota Kabupaten Kerinci, Sungai Penuh. Kira-kira berjarak 10 km dari Semurup menuju ibu kota, sehingga mudah untuk diketahui oleh orang yang akan menuju ke sana. Keberadaan Ponpes nurul Haq sangat mudah untuk dicari, sehingga hal ini mengundang banyak minat siswa-siswi yang ingin sekolah di sana.
Kemudian, kalau kita lihat pada era milenium, dari segi kuantitas santri sudah mulai menurun. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
1. Diri sendiri
Faktor yang sangat besar pengaruhnya adalah faktor intern, yang berasal dari diri sendiri. Ketika dari diri sendiri menganggap sekolah agama sudah tidak ada kebebasan, maka yang terjadi adalah keengganan untuk melihat bagaimana kondisi yang sebenarnya dari sekolah itu sendiri.
Padahal, kalau kenyataan yang sebenarnya tidaklah demikian, justeru hal unik yang kami dapatkan ketika berkunjung ke Ponpes Nurul Haq adalah segala fasilitas tersedia di sana, misalnya internet, sarana olahraga, sarana seni dan musik, dan sebagainya.
2. Perubahan Persepsi Orang tua
Perkembangan zaman ternyata juga mempengaruhi pola pikir seseorang. Dalam hal ini, khususnya cara berpikir dan sudut pandang dari orang tua dalam memandang sekolah yang berbasis agama. Hal ini saling berkaitan dengan faktor nomor 1, banyak dari orang tua yang menganggap bahwa sekolah agama hanya sekedar mempelajari hal-hal yang berbau agama saja, tanpa mempelajari ilmu pengetahuan umum lainnya. Hal ini disebabkan oleh karena orang tua tidak melihat secara langsung bagaimana sistem belajar dan aktivitas di sekolah yang berbasis agama, khususnya Pondok pesantren Nurul Haq Semurup.
Dari kedua faktor yang menyebabkan kemunduran Ponpes nurul Haq, dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa peranan dari orang tua dan dorongan kuat dari diri sendiri merupakan penyebab berkurangnya siswa yang mau menuntut ilmu di Ponpes Nurul Haq, kalaupun ada yang menuntut ilmu di sana hal ini mungkin disebabkan oleh kemauan yang begitu kuat dari pribadi siswa sendiri dan kesadaran dari orang tua yang melihat jauh bagaimana sebenarnya dari sekolah yang berbasis agama, khususnya Pondok Pesantren Nurul Haq Semurup.
Namun ada satu catatan penting dan hal yang positif, yaitu keeksistensian dari Pondok Pesantren Nurul Haq dalam mencetak para santri dan santriwati yang berilmu pengetahuan serta iman dan taqwa yang mantap. Dengan kata lain, Sekolah tersebut sudah tergolong ke dalam Pondok pesantren modern, yang memadukan IPTEK dan IMTAQ.
.jpg)
(Y)
BalasHapus